Mengeraskan suara dikala berzikir sehabis salat fardu adalah sunat, dan bukan bid’ah

Mengenai hukum mengeraskan suara ketika berdzikir sehabis salat, ada ulama yang membolehkan, bahkan ada yang menyunatkan. Mereka berdalil dengan sebuah hadis sahih berikut ini:

*Dari Ibnu Abbas, beliau berkata, “Sesungguhnya mengeraskan suara dikala berzikir seusai orang-orang melaksanakan salat fardu pernah dilakukan pada masa Nabi Saw.” Selanjutnya Ibnu Abbas berkata, “Aku mengetahuinya dan mendengarnya apabila mereka telah selesai dari salatnya dan hendak meninggalkan masjid.”* (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Hadis ini terdapat dalam beberapa kitab berikut ini:
*1. **Shahih Bukhari*, Juz I, halaman 152
*2. **Shahih Muslim*, Juz I, halaman 236
*3. **Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadz-dzab*, Juz III, halaman 485
*4. **Al-Futuhatur Rabbaniyah*, Juz III, halaman 31
*5. **Al-Adzkkarun Nawawiyah*, halaman 67

Berdasarkan hadis ini, tidak salah bila kita mengatakan bahwa mengeraskan suara dikala berzikir sehabis salat fardu adalah sunat, dan bukan bid’ah.

Berkenan dengan hadis tersebut, Imam Syafii berpandangan: Berzikir dengan suara keras, hukumnya adalah sunat bila ada motif mengajarkan kepada para makmum. Kalau bukan karena motif itu, sunat dibaca dengan “*sir*” (suara rendah). Hal ini diungkapkan oleh Imam Syihabuddin Al-Qasthalani sebagai berikut:
*Imam Syafii* (Rahimahullah), *sebagaimana telah diceritakan oleh Imam Nawawi* (Rahimahullah), *mempertangguhkan hadis ini, bahwasanya mereka*(Nabi Saw. dan para sahabatnya)
*mengeraskan suaranya dalam berzikir sehabis salat fardu itu bersifat
temporer, karena ada motif mengajarkan sifat zikir; mereka tidak secara
kontinyu mengeraskan suaranya. Menurut pendapat yang terpilih, imam dan makmum tidak mengeraskan suaranya kecuali bila dipandang perlu untuk mengajar hadirin.* (Kitab *Irsyadus Sari Syarah Shahih Bukhari*, Juz II, halaman 136)

Imam Syafii dalam kitabnya, *Al-Umm*, dengan tegas berkata:
*Saya memilih, imam dan makmun agar berzikir setelah selesai salat, dan merendahkan suara dalam berzikir kecuali bagi imam yang hendak mengajarkan zikir, harus mengeraskan suara hingga ia menganggap cukup mengajarkannya, setelah itu membaca secara sir.* (Kitab *Al-Umm*, Juz I, halaman 110)

Imam Zainuddin, pengarang kitab *Fathul Mu’in*, berfatwa:
*Disunatkan berzikir dan berdoa secara sir seusai salat. Maksudnya, hukumnya sunat membaca zikir dan berdoa secara sir bagi orang yang salat munfarid, berjemaah* (makmun), *imam yang tidak bermaksud mengajarkannya dan tidak bermaksud pula memperdengarkan doanya supaya diamini mereka.* (Kitab *Fathul Mu’in*, halaman 24)

Dari uraian diatas, dapat disimpulkan sebagai berikut:
– Men-*jahar*-kan suara ketika berzikir dan berdoa sehabis salat fardu
hukumnya makruh, sunat bila dibaca secara *sir*.
– Sunat men-*jahar*-kannya, bagi imam yang bermaksud mengajarkannya kepada makmum.
– Bila imam berkeinginan untuk diaminkan doanya maka disunatkan
membacanya secara *jahar*.

Untuk memperdalam masalah ini, bacalah kitab-kitab berikut ini:
*1. **Irsyaadul ‘Ibaad*, halaman 21
*2. **I’anatuth Thalibin*, Juz I, halaman 184
*3. **Busyral Karim*, Juz I, halaman 85

Berkumpul di suatu tempat untuk berdzikir bersama hukumnya adalah sunnah dan merupakan cara mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hadits-hadits yang menunjukkan kesunnahan perkara ini banyak sekali, diantaranya.

مَا مِنْ قَوْمٍ اجْتَمَعُوْا يَذْكُرُوْنَ اللهَ لَا يُرِيْدُوْنَ بِذَالِكَ إلَّا وَجْهَهُ تَعَالَى إلَّا نَادَاهُمْ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ قُوْمُوْأ مَغْفُوْرًا لَكُمْ –أخرجه الطبراني

Tidaklah suatu kaum berkumpul untuk berdzikir dan tidak mengharap kecuali ridla Allah kecuali malaikat akan menyeru dari langit: Berdirilah kalian dalam keadaan terampuni dosa-dosa kalian. (HR Ath-Thabrani)

Sedangkan dalil yang menunjukkan kesunnahan mengeraskan suara dalam berdzikir secara umum di antaranya adaah hadits qudsi berikut ini. Rasulullah SAW bersabda:

يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: أَناَ عِنْدَ ظَنِّي عّبْدِي بِي وَأنَا مَعَهُ عِنْدَ ذَكَرَنِي، فَإنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرًا مِنْهُ –منقق عليه

Allah Ta’ala berfirman: Aku kuasa untuk berbuat seperti harapan hambaku terhadapku, dan aku senantiasa menjaganya dan memberinya taufiq serta pertolongan kepadanya jika ia menyebut namaku. Jika ia menyebut namaku dengan lirih Aku akan memberinya pahala dan rahmat dengan sembunyi-sembunyi, dan jika ia menyebutku secara berjamaah atau dengan suara keras maka aku akan menyebutnya di kalangan malaikat yang mulia. (HR Bukhari-Muslim)

Dzikir secara berjamaah juga sangat baik dilakukan setelah shalat. Para ulama menyepakati kesunnahan amalan ini. At-Tirmidzi meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah SAW ditanya:

أَيُّ دُعَاءٍ أَسْمَعُ؟

“Apakah Doa yang paling dikabulkan?”

Rasulullah menjawab:

جَوْفُ اللَّيْلِ وَدُبُرُ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوْبَاتِ – قال الترمذي: حديث حسن

“Doa di tengah malam, dan seusai shalat fardlu.” (At-Tirmidzi mengatakan, hadits ini hasan.

Dalil-dalil berikut ini menunjukkan kesunnahan mengeraskan suara dalam berdzikir secara berjamaah setelah shalat secara khusus, di antaranya hadits Ibnu Abbas berkata:

كُنْتُ أَعْرِفُ إنْقِضَاءِ صَلَاةِ رَسُوْلِ اللهِ بِالتَّكْبِيْرِ – رواه البخاري ومسلم

Aku mengetahui selesainya shalat Rasulullah dengan takbir (yang dibaca dengan suara keras)”. (HR Bukhari Muslim)

أَنَّ رَفْعَ الصّوْتِ بِالذِّكْرِ حِيْنَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوْبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ – رواه البخاري ومسلم

Mengeraskan suara dalam berdzikir ketika jamaah selesai shalat fardlu terjadi pada zaman Rasulullah. (HR Bukhari-Muslim)

Dalam sebuah riwayat al-Bukhari dan Muslim juga, Ibnu Abbas mengatakan:

كنت أعلم إذا انصرفوا بذالك إذا سمعته – رواه البخاري ومسلم

Aku mengetahui bahwa mereka telah selesai shalat dengan mendengar suara berdikir yang keras itu. (HR Bukhari Muslim)

Hadits-hadits ini adalah dalil diperbolehkannya berdzikir dengan suara yang keras, tetapi tentunya tanpa berlebih-lebihan dalam mengeraskannya.


nu.or.id

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: