Agama yang Salah Ataukah Manusianya

Jika sering terdengan/terlihat berita-berita atau kejadian yang rada-rada memancing naiknya adrenalin luapan emosi ”kebencian”, khususnya bagi kita-kita yang beragama dengan label formal tertentu, karena berita atau kejadian tersebut sangat kental sekali nuansanya telah didominasi oleh ”ego dan emosionalnya ” sehingga nuansanya menjadi subyektif ketimbang dominasi ”nurani ” dan penuh ”provokasi” berusaha mencari “keburukan” dan menanamkan kebencian kepada orang lain ( bangsa dan agama lain ) dan bahkan didalam lingkup agama itu sendiri. Kalaulah bisa mungkin saya sebut begitu. Secara definisi agama yang saya jiplak ( dari Wikipedia saya kutip sebagai berikut ) : Kata “agama” berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “a” yang berarti tidak dan “gama” yang berarti kacau. Secara entomologis, agama berarti situasi yang tidak kacau. Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin dan berasal dari kata kerja “re-ligare” yang berarti “mengikat kembali”. Maksudnya dengan berreligi, seseorang akan berusaha mengikat kembali dirinya kepada Tuhan. Kalau boleh saya berpendapat bahwa agama itu suatu tuntunan hidup dalam peradaban manusia sebagai hamba dari Tuhannya. Hal itu bisa saja berupa ” Kepercayaan ataupun Keyakinan ” dengan tujuan agar manusia tetap berjalan dalam KEBAIKAN dan KEBAJIKAN diantara satu dengan yang lainnya, antara manusia dengan binatang dan antara manusia dengan alam. Dari mana tuntunan itu diperoleh? Dari orang-orang yang berusaha mendapatkan hubungan dengan Tuhannya hingga mendapatkan petunjuk yang diyakininya sebagai jalan menuju kebenaran, yaitu jalan menjuju Tuhan. Merekalah para nabi atau rasul atau mungkin ada istilah lain untuk menyebutkan orang-orang semacam ini. Para penyampai agama ( petunjuk ) ini semula tidak memasang “merk” suatu komunitas atau kelompok tertentu yang membedakan mereka dari orang lain. Mereka hanya menyampaikan suatu ajaran dan para pengikutnya yang kemudian hari setelah jumlahnya menjadi banyak membentuk kelompok tertentu yang populer akhirnya dengan sebutan agama A, agama B, Yayasan X atau Yayasan Z, dlsb yang pada dasarnya adalah SIMBOL-SIMBOL semata agar mudah diketahui dan dikenang. Jadi sifat tak lebih dari sekedar hanya sebagai Identitas belaka.

Tuntunan yang disampaikan oleh para pembawa agama ( petunjuk ) semuanya membawa kepada KEBAIKAN dan KEBAJIKAN, namun karena perbedaan ” label formalitas ” dan dalam kegiatan ” ritual ” serta visi pemahaman agama dan adanya berbagai macam kepentingan kelompok dan golonganlah yang membuat para pengikutnya ditambah oleh hasutan iblislah yang menjadikan “bertentangan” , dan menganggap mereka yang tidak seagama, tidak sejalan, tidak seiman, tidak sealiran, disebut “kafir” yang harus dimusuhi dan kalau bisa diberangus dari muka bumi ini. Sehingga esensi dari agama itu sendiri menjadi ” bias, kabur ” dan terlupakan inti sari patinya, karena disibukkan dengan usaha menonjolkan kebenaran kelompok dan golongan tentang konsep pemahaman masing-masing guna menarik pengikut sebanyak-banyaknya tanpa memperdulikan tujuan inti saripati semula dari agama tersebut yang nota bene ” kebenarannya ” masih sangat relatif atau mungkin malah tidak pasti kebenaran dan kenyataannya….!!!. Pertikaian pemahaman dan keyakinan rasanya sudah lama terjadi ketika awal mula didengungkan penyebarannya, bukan hanya terjadi antar kelompok pemeluk agama, tetapi di dalam kelompok pemeluk agama itu sendiri juga terjadi perpecahan, keributan yang tak jarang sampai terjadi pertumpahan darah. Apakah yang menjadi penyebabnya….???? ya …. sama …. dari awal mula adanya label formalitas agama hingga kini, karena berebut predikat status ” KLAIM KEBENARAN ” merasa diri dan kelompoknyalah yang paling benar…..!!!!. He..he…manusia ( kelompok ) yang demikian ini sesungguhnya telah menjadi korban akibat ” ketidak tepatan ” dalam mengkonsumsi dan memahami makna sebuah AGAMA, makna AJARAN dan makna sebuah teks book Kitab Suci yang terlanjur dipercayainya melebihi kepercayaannya terhadap adanya Tuhan itu sendiri. Secara tidak sengaja dan tak sadar kita telah TERJEREMBAB JATUH pada suatu kehidupan dengan POLA PENGKULTUSAN….!! bahwa AGAMA, SYARIAT, THAREQAT, HAKEKAT dan MAKRIFAT serta teks book Kitab Suci bahkan seorang Guru Pembimbingpun ( Mursyid ) telah kita JADIKAN TUHAN…..!!. Lho…lho…masak ada manusia jadi korban teks book sebuah Kitab Suci…???.  Sampeyan yang bener aja ” Ndhul….!!”. Walah…walah…masak kita pura-pura MBIDHEG ( gak tahu ), lihat saja orang-orang yang gemar mengaplikasikan makna JIHAD dengan MEMBERANGUS kelompok/golongan yang tidak selebel, merusak harta benda milik orang lain, menutup Warung orang-orang yang lagi cari nafkah, memukuli orang-orang memiliki keyakinan lain. Malahan ada yang EKSTREM banget membunuh sesama manusia dengan menjadikan dirinya sebagai sarana nempelin BOM atau istilah umumnya BOM BUNUH DIRI…haaaaaaaaaa..haaaaaaaaa….konyolnya itu semua dilakukan demi mengejar-ngejar PAHAL dan  SURGA katanya. Kondisi semacam inilah secara tak sadar menunjukkan bahwa kita-kita sebenarnya masih belum ” beragama ” tetapi baru saja mengenal sebuah agama. Jika kita betul-betul mau mencoba ” metani, menggeledah dan mau untuk instropeksi DIRI ” akan kedangkalan kita dalam banyak hal, rasanya dengan banyak mengembara menelusuri kisi-kisi kehidupan di alam raya ini, ternyata ayat-ayat Tuhan emang sudah TERHAMPAR memenuhi jagad raya dan kita tinggal memungutinya sesuai dengan kemampuan dan keperluan kita tentunya. Faktanya memang kita telah menjadi komunitas manusia beragama secara label formalitas yang dalam beraksi dan bertindak tidaklah lebih dari sekedar sekumpulan manusia yang ” memperturutkan hawa nafsu ” manusia hedonisme yang hidup penuh dengan mimpi-mimpi di alam khayali….!!!. Seharusnya, sedari saat ini lebih baik kita menggali kembali esensi dari agama yang disampaikan oleh para Nabi dan Rasul, agar kita dapat menemukan kebenaran sejati, tanpa sibuk memburuk-burukan orang lain, bangsa lain dan lagian apa sih untungnya buat kita dengan memfonis agama lain sebagai agama yang SESAT dan KAFIR…???. Bukankah Tuhan sudah mengingatkan kepada manusia untuk ” TIDAK SALING MENGOLOK-OLOK terhadap SUATU KAUM…???” yang pada akhirnya malah akan menjerumuskan kita pada kebencian dan permusuhan antara sesama makhluk ciptaan Tuhan. Beribadah secara sungguh-sungguh pasrah dan ikhlas semata-mata hanya mengharap RIDHLO-Nya, serta jalanilah tuntunan kebenaran yang masing-masing diyakini akan membawa cahaya kedamaian bagi semesta alam dan segala isinya. Tak perduli apakah namanya Islam, Katholik, Protestan, Budha, Hindu, jika anda meyakini kebenarannya maka jalanilah….!!! dengan sungguh-sungguh, bukan hanya sebagai pelengkap identitas dalam KTP atau hanya sekedar pelengkap dan ciri lahiriah yang ditampak-tampakkan religius, melainkan benar-benar untuk mendapatkan tuntunan hidup dan jalan yang lurus ( ihdinas siratal mustaqim ) di dunia ini. Ingatlah perjuangan dan pengorbanan para penyampai agama. Perjuangan Nabi Musa mendapatkan firman Tuhan, Kerelaan Yesus menjadi penebus dosa untuk ummatnya ( bagi pemeluk yang meyakininya ), Pengasingan Nabi Muhammad di Gua Hira, Pengorbanan Sang Budha dan lainnya. Mereka adalah orang-orang SPIRITUAL luar biasa yang berjuang mengorbankan dirinya guna meraih tuntunan jalan yang lurus dari Tuhan demi umat manusia yang TERPANGGIL untuk mengikutinya. Sekarang jalan itu bagi kita para generasi penerusnya sudah banyak tersedia. Kita tinggal memilih mana yang cocok untuk kita yakini, atau tidak sama sekali, atau bahkan menjadi temannya Iblis yang amat senang dengan kehancuran bagi umat manusia dan alam seperti yang dikhawatirkan para malaikat ketika Tuhan hendak menjadikan ” Khalifah ” di muka bumi ini yang keberadaannya hanyalah akan membuat ” kerusakan dan pertumpahan darah ”. Mari kita sama-sama mewujudkan dunia yang penuh damai, dengan beragama, berkepercayaan dan berkeyakinan secara sungguh-sungguh. Landasannya adalah marilah kita sama-sama untuk menjadi MANUSIA SEJATI yang JUJUR pada DIRI SENDIRI dan MENJADI DIRI SENDIRI……..!!. Jangan berhenti hanya sebatas dengan APA KATANYA, kata Kiayinya, kata Ustadnya, kata Gurunya, kata Kitab Sucinya, kata Hadisnya…toh tetep saja ujung-ujungnya HANYA kita SENDIRILAH yang memiliki otoritas untuk MENTAFSIRKAN dan MEMAHAMI dari segala apa yang DIKATAKANNYA dan apa yang DIAJARKANNYA…!! hanya DIRI KITA SENDIRI…..!!! maka JADILAH DIRI SENDIRI…karena dengan menjadi diri sendiri rasanya kita akan MENGENAL DIRI..dengan mengenal DIRI, maka tidak mustahil kita akan MENGENAL TUHAN sang Pencipta Langit dan Bumi. Karena sesungguhnya TUHAN sudah ada dalam DIRI-KU…DIRI-MU dan DIRI-KITA….!! yang dalam khazanah Jawa disebut dengan ” LORO-LORONING SATUNGGAL ” berbilang namun hakekatnya adalah SATU . Satu yang telah DIGULUNG menjadi satu KEBERADAAN dan KENYATAAN dalam KEHENINGAN, KEHAMPAAN, KOSONG…tanpa huruf, tanpa abjad, tanpa kata-kata dan tanpa LAFDZ sekalipun…!!.

http://kariyan.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: